Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' saruga, basengat ka'jubata
TIRA TANGKA BALANG
Legenda ini berasal dari sebuah kampung bernama nyaling di tumbang topus, kecamatan uut murung, kabupaten murung raya atau puruk cahu.
kisah tentang asal usul tana malai tolung lingu (mura) berawal dari suatu konsepsi masyarakat tentang adanya tanah kayangan atau danum songaoi.
konon disana pernah hidup dua perempuan yang sangat cantik yang bernama bura dan santaki. suatu hari kedua perempuan ini turun ke dunia (danum kolunon) untuk mengamati keadaan dunia yang ternyata masih banyak tempat yang sepi dan tak berpenghuninya,
mereka bersedih karena kondisi ini dan memutuskan kembali ke kayangan, sepanjang hari bura dan santaki merenungkan apa yang harus mereka perbuat, supaya tidak ada lagi tempat sepi dan tak berpenghuni di dunia.
lalu mereka memutuskan untuk menurunkan tana malai tolung lingu di dunia, tana malai tolung lingu atau petak malai buluh buluh marindu adalah benda keramat milik manusia yang ada di tanah kayangan.
tana malai atau petak malai adalah tanah yang bertahun-tahun dikumpulkan oleh burung elang dari seluruh penjuru alam dimana ia pernah singgah, di katakan keramat karena tanah yang semula menempel atau melekat pada kaki burung elang itu akhir nya menumpuk dan di jadikan sarang.
tana malai itu berbau harum dan berwarna kuning keemasan, serta mempunyai kekuatan mistik yang bisa memikat siapapun yang pernah menyentuh tanah tersebut, demikian pula yang terjadi dengan burung elang.
sejauh apapun ia pergi, tetap akan kembali ke sarangnya, karena pengaruh dari tana malai yang keramat itu, sedangkan tolung lingu atau buluh marindu adalah bambu, keberadaan bambu ini terkait dengan cara pengambilan tana malai atau petak malai.
kelak ketika tana malai atau petak malai di temukan oleh manusia untuk pertama kalinya, tempat di turunkannya tana malai tolung lingu atau petak malai buluh marindu di dunia adalah di gunung pancung ampang(sebelah hulu barito selatan) dan gunung bondang (sebelah hulu sungai laung).
sekitar tahun 1720 dan 1721, tana malai tolung lingu ataupetak malai buluh marindu ditemukan oleh nyahu bin sangen dan conihan, keduanya merupakan penduduk yang berdiam di daerah pendalaman wilayah kabupaten murung raya atau puruk cahu,
tepatnya dari sebuah kampung yang didiami oleh suku siang kono desa tumbang topus (sekarang masuk kecamatan ut murung), pertemuan tana mali tolung lingu oleh nyahu bin sangen dan conihan terjadi di tengah perjalnan mereka mencari sarang burung ke daerah liang gunung pancung ampang (cahai uhai), daerah ini berada di antara hulu sungai karamu, sungai busang dan sungai chan(anak sungai mahakam).
nyahu bin sangen dan conihan menemukan tana malai di dinding batu yang terdapat di lereng gunung pancung ampang. tana malai ini berhasil diambil setelah kedua orang tersebut menemukan tolung lingu atau bambu.
tolung lingu ini harus mereka sambung-sambung terlebih dahulu hingga menjadi panjang, hal ini mereka lakukan karena letak tana malai sangat tinggi dan tidak bisa di sentuh oleh sembarang orang.
konon mereka harus masuk ke dalam tolung lingu itu melalui lubang yang ada pada ruang bambu,setelah menemukan tana mali tolung lingu, nyahu dan conihan pun kembali ke kampung tempat mereka berasal.
kedua orang ini segera menceritakan perihal penemuan mereka tersebut kepada tua-tua adat dan penduduk lainnya, tana mali tolung lingu atau petak malai buluh marindu lantas di jadikan sebagai pemikat atau penakluk hati
(songkolasan_songkolimo) bagi suku siang kono, di tahun 1721, terjadi perestiwa penemuan tana malai tolung lingu atau petak malai buluh marindu oleh nyaman dan talawang amai meteh, keduanya berasal dari suku siang murung yang hidup di kampung taluu nyaling.
tana malai tolung lingu di temukan di gunung bondang ( sebelah hulu sungai laung), sebuah gunung tertinggi yang ada di daerah tersebut, mulanya nyaman dan talawang amai meteh bermaksud untuk balampah atau bersemedi guna mencari alamat/ petunjuk agar memperoleh kesuksesan hidup.
setelah berada di puncak gunung, mereka menemukan tolung lingu yang menuntun mereka untuk menemukan tana malai, penemuan itu membuat mereka membatalkan keinginan bersemedi dan memutuskan kembali ke kampung.
sesampai di kampung, kedua orang itu menceritakan tentang penemuan tana malai tolung lingu atau petak malai buluh marindu tersebut kepada tua-tua adat dan penduduk kampung mereka. adat dan penduduk kampung mereka, sama seperti suku siang kono.
tana malai tolung lingu atau petak malai buluh marindu yang di temukan oleh nyaman dan talawang amai meteh pun di jadikan sebagai pemikat atau penakluk hati bagi suku siang murung.(*)
Sekian terimakasih .
Comments
Post a Comment
jaman boleh berubah, apapun kamu boleh maju kamu boleh kaya kamu boleh pintar, di cat warna apapun rambut mu, apapun status mu apapun gelar mu tinggal di negara mana pun kamu, darah kamu tetap darah dayak, tidak bisa kamu buang. jadi wajib kamu sebagai orang dayak mempertahankan adat tradisi dan budaya !