Palangka Raya - Berdasarkan buku berjudul Sejarah Kota Palangka Raya yang diterbitkan pada 2003 disebutkan cikal bakal Kota Palangka Raya tak lepas dari kondisi tanah di Lewu Rawi pada sekitaran tahun 1800-an yang tak cocok untuk lahan bertani. Hal itu membuat pasangan suami istri Bayuh dan Kambang memutuskan untuk mencari tempat lain.
Dengan menggunakan perahu, akhirnya mereka berhenti di wilayah yang kini dikenal dengan nama Kecamatan Pahandut. Lokasi itu tanahnya dikenal cukup subur, kaya akan ikan dan lain-lain sehingga mengubah kehidupan Bayuh dan Kambang.
Kabar tersebut dengan cepat menyebar di Lewu Rawi, sehingga menyebabkan banyak warga desa yang mengikuti langkah pasangan itu. Singkat cerita desa itu menjadi ramai dan kemudian dikenal dengan Desa Dukuh Bayuh. Bayuh menjadi pembaka atau kepala desa.
Lebih lanjut di desa itu kemudian diketahui seseorang pria dengan anak bernama Handut yang dikenal cukup sakti. Berkat kemapuan supranatural yang mampu menyembuhkan orang sakit, banyak warga desa lain yang meminta pertolongan kepadanya.
Sesuai adat Dayak Ngaju yang menganut Teknonimi yaitu pemberian nama kepada ayah atau ibu berdasarkan nama anaknya, maka tokoh Desa Dukuh Bayuh itu akrab disapa Bapak Handut atau Pa Handut. Setelah tua dan meninggal dunia, sebagai bentuk penghormatan, warga desa kemudian mengubah nama desa itu menjadi Pahandut
Catatan penggalan cerita ini terdapat pada arsip pemerintah Hindia Belanda dalam laporan Zacharias Hartman, seorang pejabat Hindia Belanda yang melakukan perjalanan menyusuri Sungai Kahayan, pada Oktober 1823. Keberadaan Desa Pahandut juga tercantum dalam peta yang dibuat misionaris Jerman.
Sementara itu, dari notulen rapat perdamaian di Tumbang Anoi pada 1894 disebutkan di Kampung Pahandut terdapat delapan betang atau rumah panjang. Artinya sebagai desa, pada 1800-an Pahandut sudah cukup ramai untuk ukuran desa di pedalaman Kalimantan.
Tujuh tahun setelah kemerdekaan Indonesia, muncul gerakan masyarakat di Kapuas, Barito dan Kotawaringin agar terbentuk provinsi administratif Kalimantan Tengah. Tuntutan itu terus menggelora dan disampaikan kepada pemerintah daerah Kalimantan dan pemerintah pusat di Jakarta.
Setelah melalui proses dramatis dan perlawanan fisik yang dikenal dengan Gerakan Mandau Telawang Pantjasila Sakti (GMTPS) serta dukungan diplomasi politisi berupa Kongres Rakyat Kalimantan Tengah, akhirnya pada 10 Desember 1956, Ketua Koordinasi Keamanan Kalimantan RTA Milono mengumumkan terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah.
Kemudian pada 23 Januari 1957 terbentuklah panitia penentuan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah dengan Mahir Mahar sebagai ketua, anggota Tjilik Riwut, G Obos, E Kamis, C Mihing, lalu penasehat ahli R Moenasier dan IR DAW van Der Pijl. Hasil rapat kemudian diambilah posisi sekitar Desa Pahandut dan Bukit Jekan serta sekitar Tangkiling untuk calon Ibu Kota Kalimantan Tengah
Tokoh Kalimantan Tengah Sabran Achmad memperkuat cerita sejarah itu. Pada 1956 dilaksanakan Kongres Rakyat Kalteng I di Banjarmasin, di Gedung Tjong Hua Tjong Hoi di Jalan Pangeran Samudra selama tiga hari, ujar Ketua DAD Kalteng ini, Jumat (15/7/2016).
Kemudian lanjutnya, pada 23 Mei 1957 keluarlah Undang-undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957 tentang Pengesahan Berdirinya Daerah Tingkat I Kalteng. Lalu pada 17 Juli 1957, Presiden Soekarno menancapkan tiang pertama Provinsi Kalteng di lokasi yang sekarang dinamakan Tugu Soekarno di Jalan S Parman Palangka Raya.
Comments
Post a Comment
jaman boleh berubah, apapun kamu boleh maju kamu boleh kaya kamu boleh pintar, di cat warna apapun rambut mu, apapun status mu apapun gelar mu tinggal di negara mana pun kamu, darah kamu tetap darah dayak, tidak bisa kamu buang. jadi wajib kamu sebagai orang dayak mempertahankan adat tradisi dan budaya !