Sejarah ngayaw & perang suku dayak

"Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka'Jubata,"

Sekitar 1 abad yang lalu tepat di tahun 1894 diadakan perjanjian damai suku dayak yang bernama perjanjian Tumbang Anoi.

Tentunya bagi masyarakat Dayak tidak asing lagi dengan sejarah besar yang satu ini, saya coba mengulang kembali dan memberikan informasi kepada hampahari semua, yang mungkin belum mengetahui tentang apa itu perjanjian Tumbang Anoi.

Di desa yang bernama Tumbang Anoi
kecamatan damang batu
kabupaten gunung mas
provinsi kalimantan tengah.
yang menghasilkan poin-poin perdamaian suku dayak pada abad itu.

Untuk lebih jelasnya kita akan kembali Mengulik informasi sejarah sebelum Tahun_1894
Sebelum perjanjian itu di deklarasikan dan Apa penyebabnya di buatnya perjanjian Tumbang Anoi.?

TAHUN 1800

OLEH: MAXIME AUBERT
SEORANG AKADEMIS DARI GRILITH UNIVERSITY AUSTRALIA.












Priode pra perjanjian Tumbang Anoi bisa Disebut priode Mengayaw atau dikayaw.
Ngayaw sendiri adalah tradisi adat suku Dayak tempoe doeloe

Dimana mereka memenggal kepala musuh Dan Membawa nya pulang
Biasanya kayaw Dilakukan saat keadaan Sedang perang dan bisa juga untuk keperluan ritual.

Istilah ngayaw adalah istilah lokal, tapi Sejarah para pemenggal kepala dari kalimantan pertama kali di perkenalkan Dalam skala global pada tahun 1882.

Dalam sebuah buku karya carl bock
yang berjudul:

(THE HEAD HUNTER OF BORNEO)













Buku inilah yang pertama kali membuat Pandangan dunia tentang orang-orang Dayak sebagai suku kanibal, dan pemburu kepala eksis hingga sekarang :).

Tapi hal itu wajar karena memang pada Masa itu Dayak primitive masih sering Melakukan Hal-Hal brutal seperti
Pemenggalan kepala dan saling membunuh.
Tapi masih Simpang siur apa penyebab t
Tercipta nya Ritual ngayaw di kalimantan.

Sebelum pra-perjanjian Tumbang Anoi.
Ada 2 poin penting yang menjadi akat Permasalahan dan kerusuhan dayak pada Masa itu.

1).Aksi angsaw kayaw atau pembunuhan antar suku
2).Peperangan melawan belanda 
  • Untuk pemersalahan Yang pertama Aksi saling membunuh sering terjadi Dikarenakan prebutan Wilayah
Yang memang pada saat itu suku Dayak Tidak mengenal peembagian wilayah Secara administratif.

Mereka menempati wilayah yang dianggap Bisa memiliki Sumber daya yang Mencukupi dan menopang
Segala aktivitas Serta kehidupan Dalam Satu suku.

Peristiwa puncak pertikaian antar suku Dayak ialah ketika terjadi prebutan usaha pengambilan getah nyatu, yang berlokasi di kalimantan tengah dan kalimantan Barat.

Tapi dari reprensi lain juga ada yang Mengatakan wilayah tersebut terletak di Perbatasan antara kalimantan tengah dan kalimantan timur.

Dimana pada saat itu suku dayak ngaju dan suku dayak kenyah saling melakukan kayaw-mengayaw untuk memperebutkan Lokasi tersebut pada prinsip nya

Suku dayak akan mempertahankan wilayahnya dan setiap orang yang bukan dari sukunya dan jika terjadi tragedi saling membunuh, suku dayak harus membalaskan kematian anggota sukunya.

Dengan memburu kepala dari suku yang Telah Membunuh anggota sukunya, kepala Tersebut lalu Dibawa pulang dan Digunakan dalam acara (Tiwah),sebuah Ritual untuk menghargai kematian anggota suku.

kegiatan memburu kepala tersebut Semakin sengit
Sehingga pristiwa itu dikenal dengan Pristiwa kayaw 100.
(gambar ini hanya ilustrasi)








  • Permasalahan kedua adalah sehingga terjadinya peperangan dengan kolonial belanda.
Dimana pada masa itu, pemerintah hindia Belanda sering merasa kewalahan dan juga was-was tentunya dengan adanya pertikaian dan aksi pemenggalan kepala yang sering terjadi di Borneo.

Hal ini tentunya menghambat akses Pemerintah hindia belanda untuk Melakukan monopoly di Daerah-Daerah
Yang berada di Pulau kalimantan.

Sehingga Tak Jarang orang-orang Belanda Yang Nekat menerobos masuk ke wilayah Suku-suku setempat, akan menjadi buruan Suku Dayak.

Kisah paling terkenal adalah kisah Hilangnya Mayor Muller,
Seorang perwira zeni pasukan napoeleon Bonaparte, yang pergi dari hindia belanda Pada tahun 1817
Untuk bergabung dengan kerajaan hindia Belanda.

Dia terlibat dalam penyerangan belanda ke Kesultanan (sambas pada tahun1818).
Bahkan diangkat Sebagai Acting Residen Di sana,sempat bekerja sebagai petugas inspeksi pala di banda neira, maluku, pada Tahun 1820. 

Dua tahun kemudian dia kembali ke kalimantan barat sebelum terpilih untuk mewakili belanda ke Kesultanan kutai kertanegara
dengan ambisi untuk mengontrol arus perdagangan di sepanjang sungai mahakam.

Belanda bermaksud menekan kontrak politik dengan sultan kutai salahuddin.
Belanda mengutus muller beserta 20 prajurit jawa, ke kutai pada 8 agustus 1825.

"Ditetapkan bahwa perjanjian perdamaian mengharuskan belanda untuk memberi perlindungan kepada kutai dan menyediakan upah tahunan sebesar 8000 gulden untuk kesultanan sebagai syarat persetujuan."tulis burhan djabier magenda dalam East kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy.

setelah meneken perjanjian dengan salahuddin, muller berambisi menelusuri pedalaman kalimantan -dari kutai timur menuju sambas atau pontianak barat- untuk mengeksplorasi alam kalimantan yang di sebut para penjelajah belanda sebagai terre incognita atau "wilayah tak diketahui."

“Meski sultan enggan mengizinkan Muller masuk lebih jauh ke dalam wilayah kekuasaannya, dia tetap pergi ke Mahakam dengan pasukan Jawanya. Hanya satu dari rombongan itu yang berhasil dengan selamat di pantai Barat,” tulis Bernard Sellato dalam Innermost Borneo: Studies in Dayak Cultures.

Muller dan pasukannya diyakini dibunuh oleh suku Dayak di hulu Kapuas. Hal ini kemudian dibenarkan oleh John Dalton, petualang Inggris yang mengunjungi tempat kejadian perkara tiga tahun kemudian dan menemukan benda-benda peninggalan Muller dan timnya, seperti tertera dalam artikel seabad peringatan hilangnya Muller (20 Januari 1826-20 Januari 1926) oleh De Indische Courant.

Kesimpulan itu diragukan dan ada kecurigaan keterlibatan sultan, seperti diungkap artikel “Massacre of Major Mullen and His Party,” Singapore Chronicle, Mei 1831, termuat dalam Notices of the Indian Archipelago and Adjacent Countries suntingan J.H. Moor.

Artikel itu menyebutkan bahwa ternyata Muller meneken perjanjian bukan dengan sultan, melainkan syahbandar bernama Saib Abdullah. Saib mengaku bernegosiasi di bawah ancaman Muller; atau justru Muller yang ditipu oleh sang syahbandar. Skenario manapun membuat sultan tidak senang karena harus menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda, dan satu-satunya cara membatalkan perjanjian itu dengan cara melenyapkan Muller.

“Akan tetapi ada beberapa orang yang mau memberikan informasi sesungguhnya apabila mereka dijamin keselamatannya. Salah satunya budak sultan, seorang Jawa, bernama Seredin, yang menyebut sang syahbandar sebagai otak dibalik peristiwa tersebut,” tulis artikel tersebut.

Entah mana yang benar, faktanya Muller dan timnya lenyap, dan tak ada konfirmasi resmi soal siapa yang bertanggungjawab. Setidaknya sampai 1950-an, orang-orang Belanda masih terus menggali kebenaran misteri lenyapnya Muller.?

Kebencian kepada Belanda Berubah menjadi Perang, pada Mei 1859 di pulau Petak Kapuas, Meletus pertempuran dengan Belanda.

Kapal Perang Belanda ci panas tidak bisa digunakan lagi, anak buah kapal terbunuh semuanya.

Tahun 1855, perang tewah meletus, disusul oleh perang di hulu Katingan,Kahayan,Mentaya dan hulu Barito.

Yang merugikan besar pada serdadu Belanda baik kapal perang maupun nyawa.

Ekspedisi terakhir setelah peperangan adalah ekspedisi seorang antarpologs sekaligus dokter, Neuwenhuis 1893 ia di bantu oleh seorang ahli biologi maolen garf beserta tim nya, tujuan Dilakukan nya ekspedisi ini tidak lain untuk melakukan pemetaan wilayah Kalimantan, beserta sumber-sumber alam yang ada di dalam nya.

Tentunya Pihak Belanda Tidak Menginginkan Lagi kejadian Seperti Ekspedisi Muller yang gagal dan Perang Melawan Suku Dayak yang di sebut-sebut Dengan pasukan Hantu.

Belum Lagi Dengan Suku-Suku Dayak yang Lain, yang sedang Berperang Memperebutkan wilayah Dengan Sesama Suku Dayak. 

Situasi ini Dianggap Menghambat Orang-Orang Belanda Untuk Mendapatkan Akses Monopoly kedalam seluruh wilayah Borneo.

Dalam keadaan demikian Belanda mencari akal bagaimana memadamkan api perlawanan dan aksi kayaw, sekelas serta memperluas penguasaan teritolial sekaligus. 

Di pihak lain yang berada di tengah api perang,  hasrat bersatu orang Dayak seluruh Borneo makin dirasakan. 

Kerna situasi inilah residen Belanda wilayah Kalimantan tenggara, pada Juni 1893, mengundang semua kepala suku yang terlibat Sengketa, ke Kuala Kapuas Kalimantan tengah untuk membicarakan upaya perjanjian perdamaian pertemuan tersebut membahas antara Lain

1).memilih siapa yang sanggup dan mau menjadi Ketua dan sekaligus menjadi tuan rumah penyelenggaraan Perdamaian tersebut.

2).menetapkan tempat penyelenggaraan.
 
3).menetapkan kapan waktu   penyelenggaraan.

4).menetapkan lamanya sidang damai itu   bisa dilaksanakan.

Dengan demikian pertemuan awal tersebut Menghasilkan kesepakatan yaitu 
Seorang tokoh Dayak.

 *Damang batu, ditetapkan Sebagai ketua   Pelaksana Rapat Damai.

*Tempat Rapat Damai di Tumbang Anoi,       Di Betang Kediaman Damang Batu.

*Di Beri waktu 6 bulan untuk melakukan persiapan-persiapan, dan diharapkan pada Awal tahun 1894 rapat tersebut sudah bisa dimulai  (catatan penyunting ternyata masa persiapan memakan waktu kurang lebih satu tahun).

*Lama di persidangan ditetapkan tiga bulan, direncanakan dimulai pada tanggal 1 Januari s/d 30 Maret 1894 (namun rapat damai Tersebut baru dapat dimulai pada tanggal 22 Mei s/d 24 Juli 1894).

*Undangan disampai melalui para kepala   Suku dan tokoh masing-masing daerah.

*Utusan/peserta Rapat haruslah tokoh atau kepala suku yang mengetahui adat-istiadat di daerah nya masing-masing.

Tahun 1894
Sesudah dilaksanakan nya rapat damai pada Tahun 1894, maka dihasilkan perjanjian perdamaian yang diringkas 9 poin penting sebagai berikut ini:
1). Menghentikan permusuhan dengan pihak pemerintah hindia Belanda.

2). menghentikan kebiasaan perang antar suku dan antar desa.

3). menghentikan kegiatan balas dendam antar keluarga.

4). Menghentikan kebiasaan adat mengayaw.

5). Menghentikan kebiasaan adat perbudakan.

6).Pihak Belanda mengaku berlakunya hukum adat Dayak dan memulihkan segala kedudukan, dan hak-hak suku Dayak dalam lingkup pemerintahan kikal tradisional mereka.

7).Penyeragaman hukum adat antar suku.

8).menghentikan kebiasaan hidup berpindah-pindah dan agar menetap di suatu permukiman tertentu.

9).Mentaati berlakunya penyelesaian sengketa antar penduduk maupun antar  kelompok yang diputuskan oleh rapat adat besar yang khusus diselenggarakan selama Rapat damai ini berlangsung.

Pada poin perjanjian yang pertama.
kita sudah mengetahui bahwa perjanjian ini adalah sebuah rencana politik yang dilakukan oleh pemerintah Hindia belanda.

Suku Dayak telah menyetujui perjanjian yang sudah di deklarasikan tersebut
Mengakui pihak Belanda sebagai pemerintah resmi.

Karena seperti yang disebutkan Dalam poin delapan.

pemerintah Hindia Belanda menjanjikan pembagian wilayah secara Administrative beserta kebutuhan-kebutuhan ekonomi dalam satu suku.

pembagian wilayah secara resmi ini bertujuan untuk mencegah terjadinya lagi pertikaian antar suku dimana dalam poin 2 3 dan 4.akitivitas mengayaw dan saling membunuh harus di hapuskan.

kesembilan poin perdamaian tersebut Disepekati dengan adanya sumpah Dayak:
"siapa saja yang melanggarnya akan diberikan sanksi hukuman".

terlebih lagi suku Dayak pada masa itu sangat pantang untukmelanggar sumpah mereka, yang sudah dilaksanakan dengan hukum Dayak yang berlaku.

karena pandangan dari kepercayaan mengucapkan janji dan sumpah adalah hal yang bersifat sakral.

Dengan demikian terbentuklah perjanjian sebuah perdamaian antar suku Dayak yang saat ini yang kita kenal dengan perjanjian (Tumbang Anoi 1894)






Comments